Perlukah bakat dalam belajar musik?

 Kalau bicara soal belajar musik, kita pasti langsung berpikir soal bakat. Kata "Bakat" terkadang menjadi momok tersendiri, dimana orang berbakat sering kali menjadi sepele dalam berusaha, dan orang yang kurang berbakat sering menyerah sebelum mencoba. 

Sebagai guru privat gitar klasik selama 10 tahun terakhir, saya bertemu dengan beragam karakter "calon gitaris". Ada yang berbakat, tapi mudah bosan dan malas latihan. Ada juga yang kurang berbakat tapi semangat dan rajin latihan. Menurut para pembaca, mana kah yang akan lebih cepat menjadi gitaris? Manakah yang akan melepaskan gelar "calon gitaris" terlebih dahulu?




Mungkin karena alasan inilah muncul statement "bakat hanya 1 %, 99 % nya adalah usaha". Saya pribadi setuju-tidak setuju dengan statement ini. Alasannya karena setiap orang punya persentase bakat yang berbeda-beda. Ada yang bakat musik nya 80%, ada yang 50%, ada yang cuma 10%. Kita tidak bisa mengabaikan kalau bakat itu ada, dan bakat itu nyata. Lalu apa peran "usaha" disini? Perannya adalah menutupi sisa kekosongan persentase tadi. Jika bakat mu 90%, bukankah usaha mu tinggal 10% lagi? Jika bakatmu 10%, berarti usahamu adalah 90% lagi. Keduanya punya kesempatan yang sama. So simple. 

Lalu, kembali ke perumpamaan tadi, si berbakat yang mudah bosan dan malas latihan dengan si kurang berbakat yang semangat dan rajin latihan. Siapakah yang jadi gitaris terlebih dahulu? Jawabannya, tergantung dari seberapa banyak mereka mengisi kekosongan persentase tadi. Jika si berbakat 90%, hanya berlatih saat dia sedang ingin atau saat jam kursus nya saja, mungkin dia akan menangkap pelajaran dengan cepat dan tidak butuh waktu lama untuk mempraktekkan nya. Tetapi, tanpa pengulangan dan latihan yang rutin, dia sudah pasti akan lupa. Sedangkan, si kurang berbakat mungkin akan lama menangkap pelajaran atau bahkan tidak kunjung bisa mempraktekkan hasil belajar sampai jam kursus berakhir. Ini mungkin akan membuat nya frustasi dan juga lelah, tetapi minat yang kuat disertai latihan rutin dengan sungguh-sungguh, akan  membuatnya mampu mengejar ketertinggalan itu, cepat atau lambat. Dengan kata lain, keduanya sebenarnya memiliki peluang yang sama untuk sampai ke garis finish dan melepas gelar "calon gitaris" secara bersamaan. 

Kesimpulannya, musik itu perkara "ala bisa karena biasa". Tidak ada orang yang pasti bisa belajar musik dalam sekejap walau bakatnya hampir 100%, dan juga tidak ada orang yang akan gagal dalam usaha keras-nya belajar musik walau bakatnya tidak mencapai 10%. Bakat bukanlah garansi akan mahir atau tidak mahirnya suatu bidang dapat dikuasai. Usaha bukanlah aksi singkat yang hanya dilakukan sekali dua kali. Keduanya harus saling support satu sama lain.

Kesimpulannya, jika kamu menyadari bakat yang kamu miliki (apapun itu), maka bersyukurlah dan jangan lepaskan peluang mengembangan bakat tersebut dengan tidak mengiringinya dengan usaha. Jika kurang berbakat dalam bidang yang menarik minatmu itu, jangan takut untuk terus mencoba. Karena kura-kura menang lomba lari bukan hanya karena kelinci ketiduran ditengah lomba lari, tetapi juga karena kura-kura tidak pernah berhenti untuk terus berlari.


Salam hangat,


Yulia Adhia Anwar 

😉

Komentar

Postingan Populer